Rabu, 04 Juni 2008

GAMBAR dan RUPA ALLAH


ALLAH MENCIPTA MANUSIA SEBAGAI GAMBAR DAN RUPA ALLAH.

Berfirmanlah Allah: ”Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas seluruh binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26)


Alkitab menyaksikan dan menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah.. Allah menciptakan manusia menururt gambar dan rupa Allah (Kejadian 1: 26). Kata ”gambar” dan ”rupa” tidak mempunyai perbedaan yang hakiki. Kedua kata tersebut sebenarnya menunjuk kepada hal yang sama. Hal ini ternyata dari penggunaan kedua kata tersebut yang secara bergantian, tersendiri ataupun bersamaan. Didalam beberapa bagian Alkitab, kata gambar dan rupa digunakan secara bersamaan, misalnya dalam kejadian 1:26,. Selanjutnya dalam kejadian 1:27 hanya menggunakan kata ”gambar” saja (Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakannya dia...), sedangkan dalam Kejadian 5:1 hanya menggunakan kata ruapa (... dibuatNyalah dia menurut rupa Allah) dan lain-lainnya. Sedangkan dalam Perjanjian Baru juga ditemukan tidak jauh berbeda dengan di Perjanjian Lama. Didalam I Korintus 11:7 Rasul Paulus hanya mencatat kata ”gambar” yang berdampingan dengan kata ”kemuliaan”, sedangkan dalam Kolose 3:10 hanya mencatat kata ”gambar” dan Yakubus 3:9 menulis kata ”rupa” saja.

Kita coba mencari tahu apa sih makna atau arti dari kata ”gambar” dan ”rupa” itu . Kata itu dapat disimpulkan sebagai berikut: kata ”gambar” adalah ”tselem” (bhs Ibrani); ”image” (Bhs Inggris); ”morphe” (Yunani) yang berarti suatu peta yang ada bentuk atau patronya, sedangkan arti kata ”rupa” adalah ””demuth” (bhs Ibrani); ”likeness” (bhs Inggris); ”skema” (Yunani) yang berarti suatu bentuk yang bersesuaian dengan bentuk pertamanya. (Peta &Teladan Allah; hal.24,25). Ini artinya bahwa manusia diciptakan berdasarkan, menurut ”gambar” yang sudah ada yaitu Allah. ”Pengertiannya adalah bahwa melalui penciptaan apa yang semula merupakan bentuk awal yang ada pada Allah kemudian ”dicetakkan” pada manusia. Allah adalah yang aslinya dan manusia adalah salinannya. (Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia; hal. 46)

Jikia demikian apa makna dan pengertian-pengertian yang terkandung dalam kata ”gambar dan rupa Allah” sebelum manusia jatuh dalam dosa (Teologi Sistematika 2 Doktrin manusia; hal 47-50)
1. Gambar dan rupa Allah, terkandung didalamnya bahwa manusia memiliki apa yang disebut dengan ”kebenaran asali”. Hal ini mencakup hal pengetahuan yang benar, kebenaran dan kesucian. Manusia mempunyai pengetahuan akan yang benar, kebenaran dan kesucian didalam dirinya.
2. Gambar dan rupa Allah mengacu pada elemen-elemen yang menjadi natur konstitusional manusia seperti kekuatan intelektual, perasaan natural dan kebebasan moral.
3. Gambar dan rupa Allah mengacu pada kerohanian manusia. Manusia bukan saja terdiri dari tubuh jasmani akan tetapi juga memiliki kerohanian yang memungkinkan manusia berhubungan dengan Allah.
4. Gambar dan rupa Allah memberi arti bahwa manusia mempunyai nilai kekal dalam kehidupannya. Kekekalan ini tidak berada didalam dirinya sendiri sebab manusia itu diciptakan. Nilai kekal itu merupakan pemberian Allah dalam penciptaan manusia.

Sebagai akibat manusia diciptakan segambar dan serupa dengan dan oleh Allah maka ada beberapa imlplikasinya, antara lain:
1. Allah adalah Tuan. Manusia dicipta oleh Tuhan Allah ini berarti bahwa manusia milik Tuhan, Tuhan yang empunya manusia. Oleh karena itu maka hidup manusia hanya diperuntukkan kepada Tuhan saja, tidak kepada yang lain. Hanya kepada Tuhan saja menusia mengabdi dan menyembah. Manusia tunduk hanya kepada Tuhan Allah.
2. Manusia merupakan gambar dan rupa Allah, ini berarti bahwa manusia dalam hidupnya harus mencerminkan, menggambarkan Allah dalam kehidupannya. Perkataan dan perbuatan manusia harus mencerminkan kemuliaan peciptanya yaitu Allah.
3. Manusia diciptakan oleh Allah dalam gambar dan rupanNya, ini berarti bahwa kemauan, kehendak dan hidup manusia harus bersesuaian dengan tujuan Allah menciptakan manusia. Bahwa Allah menjadikan manusia untuk kemuliaan-Nya (Yesaya 43:7).

Manusia merupakan mahkota ciptaan Allah (Wow...ini luar biasa) Sebagai mahkota ciptaan Allah, menusia memiliki keistimewaan-keistimewaan/kemuliaan-kemuliaan dibandingkan dengan ciptaan yang lainnya. Coba lihat, Mazmur 8:6, menyatakan ”Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat”. Kemuliaan dan kehormatan adalah dua hal yang tidak dimiliki oleh ciptaan Tuhan yang lainnya. Kemuliaan yang diberikan Allah nampak dalam hal bahwa manusia diberi kuasa untuk menguasai dan mengusahakan bumi dan segala isinya. Kemuliaan dan hormat yang dimiliki manusia nampak dalam hal bahwa manusia berada ”diatas” ciptaan Tuhan yang lainnya. Kehormatan yang diberikan kepada manusia nampak dalam hal manusia mengetahui dan memiliki kebenaran dan kesucian. Hanya manusia yang mempunyai dan mengerti martabat / harga diri. Hanya manusia yang mengerti rasa malu. Hanya manusia yang mempunyai dan mengerti nilai-nilai kehidupan. Hanya manusia yang dapat menghargai sesamanya. Hanya manusia yang mempunyai sopan santun.

Dalam dunia binatang tidak mengenal etika dan aturan. Dalam dunia kehidupan binatang tidak dikenal sopan santun. Dalam dunia binatang tidak dikenal apa yang namanya ”moral dan bermoral”. Dalam kehidupan dunia binatang tidak dikenal yang namanya belas kasihan, yang ada adalah siapa yang kuat dia yag menang dan yang lemah dia yang kalah. Namun Allah menciptakan kehidupan manusia tidaklah sama dengan dunia kehidupan binatang.

”Berfirmanlah Allah: ”Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita...." Penyataan Alkitab ini serta merta menggugurkan teori evolusi dari Darwin. Manusia ada karena diadakan oleh Allah. Manusia ada dan berada karena Allah menciptakan dan mengadakan manusia. Manusia tidak berasal dari suatu spisies lainnya. Manusia bukan merupakan perubahan bentuk dari bentuk yang ada. Manusia bukan penjelmaan dari suatu mahkluk hidup lainnya. Bahkan manusia bukan hasil dari proses perubahan dari bentuk yang mirip dengan manusia. Teori evolusi Darwin berdasarkan temuan kemiripan bentuk antara bentuk manusia dengan bentuk makhluk lainnya. Berdasarkan temuan kemiripan tersebut, diambil suatu praduga yang mengarah pada suatu teori. Tetapi proses evolusi tersebut belum dapat dan tidak dapat dinyatakan kebenarannya. Belum ada suatu bukti nyata dan akurat yang menyatakan bahwa manusia berasal dari mahkluk lainnya. Teori ini (evolusi) tidak mempunyai dasar yang cukup di atas fakta yang pasti.... sampai saat ini pun sebenarnya masih berupa hipotesa kerja yang belum terbukti kebenarannya (Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia; 11). Dan lebih tegas lagi dikatakan oleh Sir Arthur Keith, bahwa ”Evolusi belum dibuktikan dan sekarang ternyata tidak dapat dipertanggung jawabkan” (Evolusi atau Penciptaan; hal 117) Praduga-praduga ataupun teori-teori sekalipun mempunyai argumentasi yang baik, tidak dapat dijadikan suatu bukti bahkan praduga untuk menyatakan bahwa manusia berasal dari mahkluk jenis lainnya.

”Berfirmanlah Allah: ”Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita ......” Penyataan Alkitab tersebut dengan jelas pula menyatakan bahwa manusia berbeda dengan ciptaan Allah yang lainnya. Manusia membawa ”gambar dan rupa Allah” sedangkan ciptaan lainnya tidak demikian. Tidak dikatakan bahwa Allah menciptakan binatang atau tumbuhan menurut gambar dan rupa Allah, tidak. Binatang dan tumbuhan tidak diciptakan sebagaimana Allah menciptakan manusia. Manusia berbeda dengan tumbuh-tumbuhan. Manusia itu berbeda dengan binatang. Tumbuhan tidak mempunyai jiwa dan roh. Tumbuhan tidak bisa menyatakan ekpresinya. Tumbuhan tidak memiliki emosi. Tumbuhan hanya memiliki hidup, hidup saat itu.

Binatang tidak mempunyai roh sebagaimana manusia. Binatang hidup dan bergerak menurut naluri dan naturnya sebagai binatang. Ada binatang- binatang tertentu mempunyai emosi dan kecerdasan yang sangat terbatas tetapi itu tidak akan sama dengan manusia. Binatang tidak berkebudayaan. Binatang tidak mempunyai budaya. Binatang tidak mempunyai etika dan moral karena itu binatang tidak bermoral dan tidak beretika. Binatang tidak hidup dan bergerak berdasarkan aturan dan hukum-hukum sebagaimana manusia mempunyai hukum.

”.......supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas seluruh binatang melata yang merayap di bumi”. Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk menguasai ciptaan Tuhan yang lainnya. Ciptaan Tuhan yang lainnya ada dibawa kuasa manusia. Atas kuasa yang diberikan oleh Tuhan maka manusia mempunyai hak untuk menguasai ciptaan Tuhan yang lainnya. ”Engkau (Tuhan) membuat dia (manusia) berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan dibawah kakinya..” (Mazmur 8:7). Namun demikian bahwa kuasa tersebut tetap dalam batasan-batasan yang telah Tuhan tetapkan. Sungguh luar biasa Tuhan menjadikan manusia. Sungguh luar biasa kuasa yang diberikan Tuhan kepada manusia.

”Berfirmanlah Allah: ”Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita ........” Penyataan Alkitab tersebut menyatakan dengan jelas perbedaan mendasar dan hakiki antara manusia dan Tuhan: Tuhan adalah pencipta manusia dan manusia adalah ciptaan Tuhan. Antara yang mencipta dan yang dicipta terdapat perbedaan yang mendasar. Perbedaan ini akan sangat nampak dalam apa yang dikatakan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah yang ke dalamnya Allah menghenbuskan nafas hidup (Kejadian 2:7). Dapat dikatakan bahwa debu tanah mengacu pada daging, tubuh atau badan manusia. Debu tanah atau daging ini sangat terbatas, dapat rusak, lemah dan dapat musnah. Debu tanah atau daging tidak memiliki hidup di dalam dirinya sendiri, ia dapat hidup selama Tuhan Allah memberikan hidup kepadanya (Iman Kristen; hal 174).
Diantara Allah sebagai pencipta dan manusia –dan semua mahkluk- yang dicipta ada garis batas. Allah ada di atas segala mahkluk dan segala mahkluk tunduk kepadaNya (Aku Percaya; hal 59)
Yang mencipta mempunyai kuasa (berkuasa) atas apa yang diciptakan sebaliknya yang dicipta tidak mempunyai kuasa (tidak berkuasa) apapun atas penciptanya. Sang Pencipta mempunyai tujuan, kehendak atas apa yang diciptakan, sedangkan yang dicipta menjalankan apa yang menjadi tujuan dan kehendak Sang Pencipta.
Manusia tidak keluar dari Allah. Manusia bukan percikan atau bagian dari zat Allah tetapi manusia adalah ciptaan Tuhan.

Terpujilah Tuhan yang telah menjadikan manusia sebagai gambar dan rupa Allah dan yang memberi kuasa yang luar biasa. Mari kita hidup seturut dengan siapa kita ini sebenarnya.
Ok, salam, heri

Literatur:
1. Louis Berkhof, Teologi Siatematika 2 Doktrin Manusia, 1994, Lembaga Reformed Injii Indonesia.
2. Pdt. Dr. Stephen Tong, Peta Dan Teladan Allah, Lembaga Reformed Injii Indonesia.
3.Dr. Harun Hadiwijino, Iman Kristen, 1988, BPK Gunung Mulia.
4.Prof. H. Enoch, M.A., F.Z.S., Evolusi atau Penciptaan, Kalam Hidup
5.Dr. J. Verkuyl., Aku Percaya., BPK Gunung Mulia.

Tidak ada komentar: